Suku Bunga BI Naik Lagi, Daya Beli Masyarakat Ambruk hingga Potensi Kredit Macet Meningkat

Wecome Bursa Kamera di Portal Ini!

Bursakamera – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI 7-day reverse repo rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%. Suku Bunga BI Naik Lagi, Daya Beli Masyarakat Ambruk hingga Potensi Kredit Macet Meningkat

Keputusan ini diambil setelah rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 dan 20 Oktober 2022. Kenaikan suku bunga ini sama sekali tidak berdampak pada kondisi perekonomian dalam negeri.

Ajib Hamdani, Ketua Komite Analisis Kebijakan Ekonomi Apindo, mengatakan kenaikan suku bunga yang dilakukan pemerintah pusat berdampak negatif. Anggaran Honor hingga Perjalanan Dinas PNS Rp 50 T Diblokir, Bansos-IKN Aman

Ajib di Jakarta, Kamis (20 Oktober 2022), mengatakan, “Dengan penerapan suku bunga acuan, inflasi relatif terkendali. Namun risikonya perekonomian melambat. Pasar dan daya beli masyarakat menurun.”

Risiko lainnya adalah meningkatnya kredit bermasalah, kenaikan suku bunga ini tentu saja akan meningkatkan bunga pinjaman.

Kecuali jika pemerintah memberlakukan paket penyelamatan kredit dalam bentuk perpanjangan restrukturisasi, ujarnya.

Kebijakan moneter ini tidak hanya menunjukkan sentimen negatif terhadap berlanjutnya pertumbuhan ekonomi.

“Badan usaha berharap belanja pemerintah dapat dipercepat untuk memastikan leverage yang maksimal dan investasi yang tepat sasaran pada kuartal akhir tahun 2022,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 19-20 Oktober 2022, diputuskan kenaikan BI 7-day reverse repurchase rate (BI7DRR) sebesar 4,75%.

BI juga menaikkan suku bunga deposito menjadi 4 persen, kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Selain itu, suku bunga kredit juga meningkat menjadi 5,5%.

Ia mengatakan, keputusan kenaikan suku bunga merupakan langkah awal, preventif, dan forward forward yang bertujuan untuk meredakan ekspektasi inflasi yang berlebihan (overshooting) saat ini. Suku Bunga BI Naik Lagi, Daya Beli Masyarakat Ambruk hingga Potensi Kredit Macet Meningkat

“Selain itu, kita harus memastikan inflasi inti ke depan kembali ke target 3% plus minus 1% sedini mungkin (yaitu paruh pertama tahun 2023),” ujarnya.

Perry menambahkan, kenaikan suku bunga juga memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupee sejalan dengan nilai inti penguatan mata uang dolar.

“Meskipun permintaan ekonomi domestik tetap kuat, terdapat banyak ketidakpastian di pasar keuangan global,” katanya.